A Poetry

Agustus 2nd, 2009 by stiecreocrawded

BIMBANG

by Amal Hamzah

Kalau betul Engkau adil

seperti kata orang itu

ya Tuhanku,

Mengapakah menjadi begini?

Peminta ini miskin

Hidup melarat

Gelak tiada bersua

Di lapangan muka

Atas kehendak-Mu

Terjadi sesuatu

Mungkinkah suka-Mu ini:

Dua pancaran cinta

Berlainan sekali?

Kata-Mu Engkau

Penyayang lagi Pengasih

Mengapakah di antara kami berdua

Telah berselisih?

Kalau atas kehendak-Mu

Mungkinkah peminta ini

Menjadi aku, dan aku

Menjadi dia?

Kekasihku, aku tiada tahu permainan-Mu,

Mungkin Engkau gembira melihat kami begini

Tapi bertanya aku, kekasihku,

Apa mulanya peminta ini

Engkau kutuki demikian rupa

Sedang aku Engkau manjakan tiada bermula?

Tuhanku, aku bimbang…

Refleksi Diri…

Agustus 2nd, 2009 by stiecreocrawded

Entah memulainya dari mana, tapi aku harus mencatatnya sebagai refleksi kilas balik buat hidupku kelak. Teman-temanku sudah berlari lebih dulu mengejar segala impian dan ambisi, semakin berlari jauh meninggalkanku yang terseok, bahkan tak mampu tuk bangun dan merangkai inginku menjadi nyata, hanya ambisi semu yang tak tahu bakal terwujud.

Oh Allah, apakah salah inginku seperti mereka? Apakah menjadi salah jika aku perlu ambisi dan obsesi demi semangat hidup? Tapi ku pun tak sanggup ya Allah, tuk penuhi semua egoku, yang naif… yang picik…

Semampuku kurajut semua rencana hidup,

Kubuat dia muluk dengan segala khayalan terbaik,

Tapi itu pun tak cukup buatku terpacu dan raih impian tertulis di sana,

Hanya kertas rencana yang kemudian terkoyak dalam raga penyesalan karna nyatanya hidup tak alami perubahan berarti.

Sungguh menyesakkan dada dan air mata.

Oh Allah, apa yang bisa menjadi pegangan buat hidup yang singkat ini? Apa yang dapat dibanggakan oleh hidup yang kurang manfaat ini? Apa yang dapat dikenang tuk hidup yang biasa saja ini? Tanpa keindahan seperti melihat pelangi yang datang setelah hujan turun dan cuaca yang hangat sedikit membakar kulit.

Semangat itu yang ingin ku kejar,,,

Menggapai pelangi,,,

Menyentuh warnanya,,,

Merasai rasanya,,,

Menikmati indahnya,,,

Dan kekuasaan sang penciptanya,,,

Ya Allah,, jangan Kau berikan sesal setelah kuputuskan itu,

Jangan Kau beri bimbang atas keputusanku,

Jangan Kau beri benci pada kecintaanku,

Jangan Kau beri kehancuran pada segala mimpiku,

Oh Allah, semoga ini jalanMu yang terbaik untukku,

Beri hamba petunjuk di setiap kubutuh,

Beri hamba jalan kemudahan di setiap langkahku,

Terima kasih ya Allah,

Amin.

By Istianah ZA

Keep u’re spirit, guys..!

May 12, 2009 at home my kamaRenungan, CreoCrowded,

Wayang, Jati diri orang Indonesiakah?

Agustus 2nd, 2009 by stiecreocrawded

Setelah asik mengamati koleksi benda-benda peninggalan di museum Sejarah Jakarta,,, kami pun kembali melanjutkan keingintahuan kami akan museum lainnya, yakni museum Wayang yang letaknya tak jauh dari museum Sejarah Jakarta. Tepatnya di jalan Pintu Besar Utara No 27, Jakarta Barat.

Sebelum masuk ke sana, kami lebih dulu membeli karcis masuk seharga Rp 2.000,-murah nian, kan? Bahkan untuk mahasiswa karcisnya hanya Rp 1.000,- saja. Kemudian kami diberikan sebuah booklet berisi seputar museum yang ada di Jakarta secara global namun dapat digunakan sebagai guide kami jika sewaktu-waktu ingin berkunjung ke museum lain.

Awal masuk ke dalam gedung museum yang unik itu, kami berjalan di sepanjang lorong yang agak gelap. Di samping kiri kanan dindingnya terdapat lukisan-lukisan menarik yang tak luput dari penglihatan kami. Setelah menyusuri lorong itu, kami menemukan tempat yang mirip sebuah taman. Di sana terdapat air mancur dan bangku panjang untuk beristirahat. Pas banget di depan bangku dan air mancur itu ada dinding krem yang bertuliskan dari bahasa Belanda… namun huruf-huruf di atas dinding tersebut banyak yang hilang… kami hanya menemukan tulisan ini saja di sana:

Op Deze Plaats s and van 1640 TOT 1732 De Oude Hollandsche Kerk of Kruiskerk en van 736 TOT 1808 De Nieuwe Holland Sche Kerk. Indie Ker ken en op het Kerkhof, Von den Hum Laatste Rust Plaats.

De Stichter Van Batavia

Jan Pieterszoon Coen in 1634

Artinya kira-kira apa ya?? kami benar-benar gak mengerti… Hehe…

Tiba-tiba saat kami mengambil foto di tempat itu, ada seorang bapak paruh baya sedang mengamati kami. Ternyata dia petugas di Museum Wayang, namanya pak Jali. Meskipun namanya mirip-mirip sama lagu khas Betawi yang berjudul Jali-Jali, ternyata bapak itu bukan berasal dari suku Betawi, tetapi kalau kami tak salah ingat pak Jali berasal dari Solo.

Dengan ramah dan bergaya guide ulung, dia mengajak kami berjalan-jalan mengitari museum wayang. Asik juga ada pemandunya! Kami jadinya gak tersesat dan bisa bertanya ini itu ke pak Jali. Dia pun dengan sabar dan pengertian menjawab pertanyaan-pertanyaan kami.

Pak Jali bilang, museum itu sudah beberapa kali mengalami perombakan karena telah dimakan usia. Gedung itu dibangun pertama kali pada tahun 1640 dan diberi nama De Oude Hollandse Kerk, yang awalnya dipergunakan untuk gereja. Namun seiring berjalannya waktu di tahun 1732 gedung itu diperbaiki lagi dan berganti nama menjadi De Nieuwe Hollandse Kerk hingga tahun 1808. kemudian akibat terjadi gempa bumi, gedung itu pun hancur. Di atas tanah bekas reruntuhan inilah dibangun gedung yang akhirnya dipergunakan untuk Museum Wayang. Pak Jali sering menjadi guide para tamu, bahkan tamu dari mancanegara. Gak heran deh kalo pak Jali punya pengetahun yang luas tentang museum ini, secara dia juga petugas museum itu.

Di museum Wayang ini kami bisa melihat berbagai koleksi wayang, mulai dari wayang yang berasal dari Indonesia sampai wayang dan boneka dari luar negeri. Wayang dari Indonesia antara lain ada wayang Kulit, Golek, Patung Wayang, Topeng Wayang, wayang Beber, dan lain-lain. Yang paling menarik yang kami lihat adalah wayang suluh keluarga ”Brayut”. Wayang itu sengaja dibuat sebagai sarana penyuluhan tentang Keluarga Berencana (KB) yang terus dianjurkan di Indonesia sampai saat ini. Diceritakan dalam wayang tersebut ibu dan bapak Brayut memiliki banyak anak yang bergelendot di punggung mereka. Tampak sekali mereka sangat kerepotan. Sedangkan gambar lainnya tampak keluarga dengan hanya dua anak dan mereka tampak bahagia…

Arti Brayut (dialek Jawa) sendiri berarti jumlah yang banyak dan merepotkan.

Selanjutnya pak Jali memamerkan pada kami sebuah wayang yang paling bagus. Wayang itu adalah wayang Kyai Intan. Kami lupa penjelasan dari pak Jali mengapa wayang Kyai Intan disebut sebagai wayang yang paling bagus dari sekian wayang yang ada di sana… maaf ya!

Kemudian kami juga diperlihatkan berbagai macam wayang kulit, mulai dari wayang kulit sasak, wayang kulit Purba Banjar yang terbuat dari kulit kerbau. Wayang kulit Purba Banjar ini berasal dari Kalimantan Selatan. Selain itu ada juga wayang kulit Purba Bali yang juga terbuat dari kulit kerbau asalnya dari Banjarmasin. Wayang kulit Purba Bali ini terdiri dari gunungan Kresna, Arjuna, Yudistira, Bima, dan satu lagi saya lupa… hehe.. maklum manusia!

Gunungan itu merupakan istilah yang digunakan sebagai pembuka dan penutup acara wayang. Tiap gunungan berlukiskan gambar yang berbeda-beda dan memiliki makna yang juga berbeda. Gagang atau pegangan wayang disebut tempurit. Tempurit terbuat dari tanduk kerbau, lalu dipotong-potong dengan gergaji hingga akhirnya menjadi gagang wayang tersebut.

Selain wayang-wayang yang berasal dari Indonesia… museum ini juga memiliki koleksi berbagai wayang dan boneka dari luar negeri. Ada wayang dan boneka dari Thailand, Suriname, Cina, Perancis, Inggris, Vietnam, India, Colombia, Arab, dan lain-lain.

Hem,,, jadi penasaran sebenarnya wayang itu aslinya dari mana ya? Apakah wayang itu bisa dikatakan sebagai jati diri bangsa Indonesia, karena banyak sekali wayang yang dimiliki Indonesia dengan beragam jenis tentunya… tapi tak sedikit pula wayang berasal dari luar Indonesia?!

Keep u’re spirit, guys..!

March 12, 2009 at home my zone comfortable,,,

Masih Ingatkah Kita Pada Kota Tua Itu?

Agustus 2nd, 2009 by stiecreocrawded

Bangunan tua itu seakan menjulang tinggi di depan kami yang memandang takjub, pada kearsitekannya yang indah memanjakan mata,,, pada keponggahannya karena telah dimakan usia,,,

Terlalu tua,, dan terlalu dini untuk mengenal si tua itu… si Tua yang berdiri kokoh di kawasan Kota Tua Jakarta, Jl. Taman Fatahillah No 1, Jakarta Barat,, atau yang lebih dikenal bertempat di jalan Beos, itu…

Terlalu dini saya rasa mengenal si Tua itu,,, karena jujur baru kali itu saya berkunjung ke museum,, atas inisiatif pribadi saat ada waktu senggang dan jenuh berada di rumah. Tiba-tiba benak saya menunjuk kata museum… saya ingin sekali ke sana, melihat semua hal yang pernah terjadi jauh sebelum saya lahir ke bumi… mungkin!

Dan saya memulainya dengan memilih museum yang terdekat dari rumah saya,, yaitu museum Sejarah Jakarta yang bertempat di gedung yang pernah digunakan sebagai Balai Kota Batavia tahun 1707 peninggalan VOC. Ternyata menarik sekali saat masuk ke dalamnya… meskipun cahaya di dalam tiap ruang tidak terlalu terang karena lebih mengandalkan cahaya matahari daripada lampu. Hal itu tidak menyurutkan keingintahuan saya tentang benda-benda artistik yang berada di dalamnya.

Setelah ditelusuri ternyata di museum Sejarah Jakarta itu banyak sekali koleksi benda-benda peninggalan yang menggambarkan perkembangan Jakarta dari masa pra-sejarah hingga masa kini. Koleksi tersebut antara lain berupa replika peninggalan masa Tarumanegara dan Sunda, mebel antik abad 17 hingga 19, yang merupakan perpaduan gaya Eropa, Cina, dan Indonesia sekalius mencerminkan gaya hidup penduduk Batavia. Dan berbagai macam koleksi benda lainnya yang sangat unik dan menarik untuk dipandang.

Tak jarang saya dan kedua adik saya mengambil foto di beberapa tempat yang bagus menurut kami. Oh, ya,,, yang lebih menarik lagi museum itu juga memamerkan koleksi berupa perkakas orang Betawi, ondel-ondel boneka khas Betasayai, hingga meriam si Jagur yang sempat populer. Sebelum kami masuk ke museum itu pun si ’meriam’ sudah tampil dengan pongahnya di depan museum… membikin kami ingin berfoto bersamanya, seakan ikut menjadi pejuang,,, hehe…

Beralih ke tempat selanjutnya masih di museum Sejarah Jakarta… kami melihat bekas tempat hukuman dan penjara yang pernah digunakan pada masa itu bagi orang-orang yang dianggap membangkang terhadap pemerintahan Belanda. Subhanallah, sungguh miris dan sedih sekali saya melihat tempat itu. Sungguh jauh dari perikemanusian dan perikeadilan… sungguh! Tempat itu begitu sumpek, bau, sempit, pengap, kotor, lembab, dengan dinding batu yang dingin dan pendek. Para tahanan itu mungkin menjadi bungkuk setelah keluar sekian lama dari penjara itu karena temboknya pendek sekali, sehingga orang yang masuk ke dalamnya harus merundukkan sebagian badannya alias berjongkok.

Saya gak bisa membayangkan penderitaan dan siksaan yang para pejuang kita rasakan. Seharusnya kita sebagai generasi yang sudah hidup enak ini senantiasa mendoakan para pejuang dan pahlawan kita agar mereka mendapatkan ridho-Nya atas apa yang telah mereka lakukan dulu. Amin.

Pergi sebentar saja ke museum itu, hati saya benar-benar tersentuh. Rasa nasionalisme dan patriotisme saya sedikit bertambah kuat. Saya cinta Indonesia. Saya cinta para pahlawan kita yang dulu dengan gagah berani berjuang jiwa raga serta rela mengorbankan harta benda dan jiwa mereka… hanya untuk sebuah bendera merah putih yang saat itu dengan susah payah dapat ditancapkan di sebuah tiang bendera.

Kini sang saka merah putih itu dapat berkibar di seluruh penjuru Indonesia… Tapi kadang, jujur, kita malas untuk sekedar memberinya hormat barang beberapa detik saja saat upacara bendera di sekolah berlangsung, iya gak siy?

Keep u’re spirit, guys..!

March 12, 2009 at home my zone comfortable,,,

Halo dunia!

Juli 18th, 2009 by stiecreocrawded

Hai, Salam kenal dari saya!

Newbie, yang masih bayi banget!

Semoga saya dapat berkarya melalui blog ini dan mengikuti jejak para blogger yang telah sukses lebih dulu,,,