Wayang, Jati diri orang Indonesiakah?

2 Aug 2009

Setelah asik mengamati koleksi benda-benda peninggalan di museum Sejarah Jakarta,,, kami pun kembali melanjutkan keingintahuan kami akan museum lainnya, yakni museum Wayang yang letaknya tak jauh dari museum Sejarah Jakarta. Tepatnya di jalan Pintu Besar Utara No 27, Jakarta Barat.

Sebelum masuk ke sana, kami lebih dulu membeli karcis masuk seharga Rp 2.000,-murah nian, kan? Bahkan untuk mahasiswa karcisnya hanya Rp 1.000,- saja. Kemudian kami diberikan sebuah booklet berisi seputar museum yang ada di Jakarta secara global namun dapat digunakan sebagai guide kami jika sewaktu-waktu ingin berkunjung ke museum lain.

Awal masuk ke dalam gedung museum yang unik itu, kami berjalan di sepanjang lorong yang agak gelap. Di samping kiri kanan dindingnya terdapat lukisan-lukisan menarik yang tak luput dari penglihatan kami. Setelah menyusuri lorong itu, kami menemukan tempat yang mirip sebuah taman. Di sana terdapat air mancur dan bangku panjang untuk beristirahat. Pas banget di depan bangku dan air mancur itu ada dinding krem yang bertuliskan dari bahasa Belanda… namun huruf-huruf di atas dinding tersebut banyak yang hilang… kami hanya menemukan tulisan ini saja di sana:

Op Deze Plaats s and van 1640 TOT 1732 De Oude Hollandsche Kerk of Kruiskerk en van 736 TOT 1808 De Nieuwe Holland Sche Kerk. Indie Ker ken en op het Kerkhof, Von den Hum Laatste Rust Plaats.

De Stichter Van Batavia

Jan Pieterszoon Coen in 1634

Artinya kira-kira apa ya?? kami benar-benar gak mengerti… Hehe…

Tiba-tiba saat kami mengambil foto di tempat itu, ada seorang bapak paruh baya sedang mengamati kami. Ternyata dia petugas di Museum Wayang, namanya pak Jali. Meskipun namanya mirip-mirip sama lagu khas Betawi yang berjudul Jali-Jali, ternyata bapak itu bukan berasal dari suku Betawi, tetapi kalau kami tak salah ingat pak Jali berasal dari Solo.

Dengan ramah dan bergaya guide ulung, dia mengajak kami berjalan-jalan mengitari museum wayang. Asik juga ada pemandunya! Kami jadinya gak tersesat dan bisa bertanya ini itu ke pak Jali. Dia pun dengan sabar dan pengertian menjawab pertanyaan-pertanyaan kami.

Pak Jali bilang, museum itu sudah beberapa kali mengalami perombakan karena telah dimakan usia. Gedung itu dibangun pertama kali pada tahun 1640 dan diberi nama De Oude Hollandse Kerk, yang awalnya dipergunakan untuk gereja. Namun seiring berjalannya waktu di tahun 1732 gedung itu diperbaiki lagi dan berganti nama menjadi De Nieuwe Hollandse Kerk hingga tahun 1808. kemudian akibat terjadi gempa bumi, gedung itu pun hancur. Di atas tanah bekas reruntuhan inilah dibangun gedung yang akhirnya dipergunakan untuk Museum Wayang. Pak Jali sering menjadi guide para tamu, bahkan tamu dari mancanegara. Gak heran deh kalo pak Jali punya pengetahun yang luas tentang museum ini, secara dia juga petugas museum itu.

Di museum Wayang ini kami bisa melihat berbagai koleksi wayang, mulai dari wayang yang berasal dari Indonesia sampai wayang dan boneka dari luar negeri. Wayang dari Indonesia antara lain ada wayang Kulit, Golek, Patung Wayang, Topeng Wayang, wayang Beber, dan lain-lain. Yang paling menarik yang kami lihat adalah wayang suluh keluarga Brayut. Wayang itu sengaja dibuat sebagai sarana penyuluhan tentang Keluarga Berencana (KB) yang terus dianjurkan di Indonesia sampai saat ini. Diceritakan dalam wayang tersebut ibu dan bapak Brayut memiliki banyak anak yang bergelendot di punggung mereka. Tampak sekali mereka sangat kerepotan. Sedangkan gambar lainnya tampak keluarga dengan hanya dua anak dan mereka tampak bahagia…

Arti Brayut (dialek Jawa) sendiri berarti jumlah yang banyak dan merepotkan.

Selanjutnya pak Jali memamerkan pada kami sebuah wayang yang paling bagus. Wayang itu adalah wayang Kyai Intan. Kami lupa penjelasan dari pak Jali mengapa wayang Kyai Intan disebut sebagai wayang yang paling bagus dari sekian wayang yang ada di sana… maaf ya!

Kemudian kami juga diperlihatkan berbagai macam wayang kulit, mulai dari wayang kulit sasak, wayang kulit Purba Banjar yang terbuat dari kulit kerbau. Wayang kulit Purba Banjar ini berasal dari Kalimantan Selatan. Selain itu ada juga wayang kulit Purba Bali yang juga terbuat dari kulit kerbau asalnya dari Banjarmasin. Wayang kulit Purba Bali ini terdiri dari gunungan Kresna, Arjuna, Yudistira, Bima, dan satu lagi saya lupa… hehe.. maklum manusia!

Gunungan itu merupakan istilah yang digunakan sebagai pembuka dan penutup acara wayang. Tiap gunungan berlukiskan gambar yang berbeda-beda dan memiliki makna yang juga berbeda. Gagang atau pegangan wayang disebut tempurit. Tempurit terbuat dari tanduk kerbau, lalu dipotong-potong dengan gergaji hingga akhirnya menjadi gagang wayang tersebut.

Selain wayang-wayang yang berasal dari Indonesia… museum ini juga memiliki koleksi berbagai wayang dan boneka dari luar negeri. Ada wayang dan boneka dari Thailand, Suriname, Cina, Perancis, Inggris, Vietnam, India, Colombia, Arab, dan lain-lain.

Hem,,, jadi penasaran sebenarnya wayang itu aslinya dari mana ya? Apakah wayang itu bisa dikatakan sebagai jati diri bangsa Indonesia, karena banyak sekali wayang yang dimiliki Indonesia dengan beragam jenis tentunya… tapi tak sedikit pula wayang berasal dari luar Indonesia?!

Keep ure spirit, guys..!

March 12, 2009 at home my zone comfortable,,,


TAGS "Otak itu seperti hati. Dia akan pergi ke manapun dia dihargai." (Robert Mcnamara)


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post